Kulgram Desain IGD #3 - 5 Skill Penting yang harus dipelajari oleh seorang Desainer - Aldo Picaso

10:03 AM











PRINSIP DASAR DESAIN GRAFIS

Ada banyak konsep dasar yang mendasari pembelajaran studi desain yang seringkali dikategorikan berbeda-beda tergantung pada dasar filosofi ataupun metode pembelajaran yang digunakan. Dalam tulisan kali ini yang akan dipaparkan adalah mengenai prinsip-prinsip dalam desain. Prinsip ini merupakan asumsi dasar yang menjadi acuan dalam proses desain dan mempengaruhi pengaturan objek desain dalam sebuah kerangka komposisi.

Ada lima prinsip-prinsip dalam desain, yaitu:

1. Proporsi (Proportion)

Merupakan perbandingan antara bentuk elemen besar dan kecil. Proporsi menyangkut suatu hubungan bagian dengan bagian yang lain atau bagian dengan keseluruhan, atau antara satu obyek dan obyek yang lainnya. Proporsi juga bertalian erat dengan hubungan antara bagian-bagian di dalam suatu komposisi, hubungan ini dapat berbentuk suatu besaran, kuantitas atau tingkatan.

Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8 : 13.

Membedakan proporsi pada sebuah komposisi dapat membentuk pada berbagai macam keseimbangan atau simetri, serta dapat menentukan bobot visual dan kedalaman benda.

Pada gambar dapat dilihat bahwa elemen/objek yang lebih kecil menyurut ke belakang sedangkan elemen yang lebih besar tampak menonjol ke depan.

Dalam prinsip desain juga terdapat beberapa skala yang lazim dipakai dalam desain yaitu skala mekanik dan skala visual. Skala mekanik adalah perhitungan sesuatu fisik berdasarkan sistem ukuran standar, bisa dengan cm, mm, inci, kaki dan lain sebagainya. Sedangkan skala visual merujuk pada besarnya sesuatu yang tampak karena diukur terhadap benda-benda lain disekitarnya.

Suatu benda dapat dikatakan berskala kecil jika kita mengukurnya dengan membandingkan terhadap benda-benda lain yang umumnya jauh lebih besar ukurannya, dan begitu pula sebaliknya.

2. Irama (Rhythm)

Merupakan pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus dan memiliki jarak atau interval pada tiap pengulangan.Irama dapat menciptakan nuansa pergerakan (movement), serta dapat membentuk sebuah pola ataupun tekstur tertentu. Ada beberapa macam irama yang seringkali didefinisikan berdasar perasaan yang timbul ketika kita melihat perulangan tersebut.
Regular rhythm: terjadi ketika jarak antar elemen atau elemen itu sendiri memiliki kesamaan dalam ukuran atau panjang.
Flowing rhythm: ketika perulangan yang terjadi memberikan nuansa pergerakan, lebih sering berkaitan dengan benda-benda di alam semisal ombak, dll.
Progressive rhythm: ketika perulangan yang terjadi merupakan rangkaian bentuk yang melalui perkembangan langkah atau tingkatan.

3. Keseimbangan (Balance)

Merupakan titik ekuilibrium yang dihasilkan ketika mengamati dan menilai sebuah objek berdasarkan ide maupun struktur fisiknya (seperti masa, gravitasi, ataupun sisi sebuah halaman) yang memiliki pengaturan sedemikian rupa berkaitan dengan titik beban visual objek tersebut dalam sebuah komposisi. Keseimbangan sering dibagi dalam dua jenis yaitu simetris dan asimetris.

Simetris
Keseimbangan simetris muncul ketika titik beban dari sebuah komposisi terbagi merata di seputar sumbu vertikal maupun horizontal. Biasanya keseimbangan simetri memiliki bentuk yang sama persis pada kedua bagian sumbu pembaginya. Keseimbangan simetris juga dikenal sebagai keseimbangan formal (formal balance).

Asimetris
Keseimbangan asimetris muncul ketika titik beban dari sebuah komposisi tidak dibagi secara merata pada sumbu tengah pembaginya. Merupakan pengaturan objek dengan bentuk dan ukuran yang berbeda dalam sebuah komposisi yang tetap memberikan keseimbangan beban visual satu sama lain. Seringkali berupa satu objek dominan yang diimbangi oleh bentukan kecil yang lebih banyak dalam satu komposisi. Keseimbangan asimetri juga dikenal sebagai keseimbangan informal (informal balance).

4. Kesatuan (Unity)

Konsep kesatuan merupakan penggambaran hubungan antara satu bagian individual (objek) terhadap keseluruhan komposisi. Hal ini digunakan untuk mengetahui aspek-aspek desain yang diperlukan untuk mengikat komposisi objek bersama-sama. baik dalam pembentukan kesan kebersamaan, keutuhan, atau membongkarnya dan menciptakan nuansa keragaman dalam komposisi tersebut. Kesatuan dalam desain berasal dari beberapa teori Gestalt mengenai persepsi visual dan psikologi, terutama yang berhubungan dengan bagaimana cara kerja otak manusia dalam mengorganisasikan informasi ke dalam kategori-kategori maupun grup-grup.

Teori Gestalt sendiri agak panjang dan rumit, berhubungan dengan berbagai tingkat abstraksi dan generalisasi, tetapi beberapa ide dasar yang keluar dari pemikiran semacam ini bisa dipahami secara universal.

Closure
Closure merupakan ide bahwa otak cenderung mengisi bagian informasi yang kosong ketika sebuah objek disadari telah hilang beberapa bagiannya. Objek dapat didekonstruksikan menjadi beberapa bagian kecil atau grup, dan ketika bagian-bagian ini ada yang menghilang otak akan cenderung menambahkan informasi mengenai sebuah objek untuk mencapai titik penuh. Pada gambar di bawah ini telah ditambahkan informasi yang hilang untuk membuat sebuah bentukan.

Continuance
Continuance atau keberlanjutan merupakan ide bahwa sekali anda melihat pada satu arah, anda akan tetap melakukannya hingga ada sesuatu lain yang lebi dominan menarik perhatian anda. Perspektif, atau penggunaan garis sudut pandang, cenderung sukses dalam mengarahkan mata pengamat kepada arah yang diberikan. Sebagai tambahan, sudut pandang mata pada subjek apa pun pada desain dapat menimbulkan efek yang serupa. Pada gambar di bawah ini, pandangan mata akan secara otomatis turun menuju arah ujung akhir jalan pada pojok sebelah kanan gambar. Karena tidak ada objek lain yang dominan untuk merubah arah pandangan mata kita.

Similarity, Proximity and Alignment
Kesamaan, kedekatan, dan keselarasan. Objek yang memiliki kesamaan pada ukuran, bentuk, dan warna akan cenderung di kelompokkan pada satu grup yang sama oleh otak kita, dan sebuah hubungan semantik antar objek pun telah terbentuk. Sebagai tambahan, objek dengan kedekatan atau selaras dengan yang lainnya akan mengalami hal yang erupa. Pada gambar di bawah ini, perhatikan betapa lebih mudahnya untuk mengkategorikan dan mengelompokkan bentuk dari objek pada pojok kiri atas daripada objek pada pojok kanan bawah.

5. Dominasi (Dominance)

Dominasi berkaitan erat dengan berbagai macam derajat penekanan (emphasis) dalam desain. Hal ini dibutuhkan dalam menentukan beban visual dari sebuah komposisi, menetapkan ruang dan perspektif, serta seringkali menunjukkan kemana mata menuju ketika pertama kali melihat sebuah desain atau komposisi. Ada tiga tahapan dominasi, masing-masingnya berkaitan dengan beban objek tertentu dalam sebuah komposisi.

Dominan: Objek memiliki beban visual terbanyak. Objek utama penekanan yang diletakkan paling depan dalam sebuah komposisi.
Sub-dominan: Objek dari penekanan sekunder. Objek berada pada level tengah dalam sebuah komposisi.
Subordinat: Objek yang memiliki beban visual paling ringan. Objek berada pada level tersier yang tersedot ke bagian belakang komposisi.

Pada gambar di bawah ini, pohon-pohon merupakan objek dominan, sedangkan rumah dan bukit sebagai dominasi sekunder, kemudian gunung sebagai dominasi tersier.

Selain prinsip-prinsip di atas, ada beberapa konsep tambahan terkait yang dapat menambah kelengkapan kita dalam mendesain sebuah komposisi desain, yaitu:

  • Kontras dan Oposisi (Contrast and Opposition)
  • Ruang Positif dan Ruang Negatif (Positive and Negative Space)
  • Rule of Thirds
  • Visual Center
  • Warna dan Tipografi (Color and Typography)


Source : https://phylolanta.wordpress.com/


Join Channel Telegram Indonesian Graphic Designers (IGD) : https://t.me/weareigd

You Might Also Like

0 comments

Instagram